Minggu, 22 Januari 2017

Tugas ISD

Nama : Iresthia Balgistha
Npm : 13116575
Kelas : 1 KA 26



Myanmar

Perubahan nama dari Burma menjadi Myanmar dilakukan oleh pemerintahan junta militer pada tanggal 18 Juni 1989. Junta militer mengubah nama Burma menjadi Myanmar agar etnis non Burma merasa menjadi bagian dari negara. Walaupun begitu, perubahan nama ini tidak sepenuhnya diadopsi oleh dunia internasional, terutama di negara-negara persemakmuran Inggris. PBB, yang mengakui hak negara untuk menentukan nama negaranya, menggunakan Myanmar, begitu pula dengan Perancis dan Jerman. Di Jerman, kementerian luar negeri menggunakan Myanmar, tetapi hampir seluruh media Jerman menggunakan "Burma".Pemerintah AS, yang tidak mengakui legitimasi kekuasaan junta militer tetap menggunakan "Burma" tetapi mayoritas media besar seperti The New York Times, CNN dan Associated Press menggunakan Myanmar.Pemerintah junta juga mengubah nama Rangoon menjadi Yangon. Pada tanggal 7 November 2005, pemerintah membangun ibu kota baru, bernama Naypyidaw. Keadaan penduduk Myanmar pada tahun 2001 sekitar 52.531.000 jiwa dengan kepadatan 67jiwa/km². Penduduk Myanmar terrier dari beberapa kelompok etnis. Kelompok terbesar adalah etnis Burma turunan Tibet –Burma sebagai pewaris bangsa-bangsa Pyus dan Mon yang menempati wilayah di sektar sunga Irawadi. Penduduk Myanmar menubuatkan bekerja di sektor pertanian meliputi pertanian sawah, tegalan, perkebunan, ladang dan lain-lain. Burma (juga dikenal sebagai Myanmar) adalah dominan dari tradisi Theravada, dipraktikkan oleh 89% dari populasi negara ini adalah negara Buddhis yang paling religius dalam hal proporsi biarawan dalam populasi dan proporsi pendapatan yang dihabiskan untuk agama. Penganut yang paling mungkin ditemukan di antara etnis Bamar dominan (atau Burma), Shan, Rakhine (Arakan), Senin, Karen, dan Cina yang terintegrasi dengan baik ke masyarakat Burma. Para bhikkhu, yang dikenal sebagai Sangha, adalah anggota dihormati dari masyarakat Burma.




Filipina

Filipina menggunakan dua bahasa resmi yang digunakan di Filipina adalah bahasa Filipina dan Inggris. Bahasa filipina adalah bahasa nasional negara itu, sedangkan bahasa Inggris secara luas digunakan sebagai pengantar dalam pendidikan tinggi dan bisnis formal. Filipina mempunyai penekanan penting untuk menggunakan bahasa yang sopan dan percakapan yang lembut. Nada suara hampir selalu lembut dan pelan. Orang-orang Filipina menghormati harga diri orang lain, sehingga mereka tidak pernah mengkritik atau berdebat dengan orang secara terbuka. Filipina menyukai percakapan sehari-hari tentang keluarga mereka. Filipina mempunyai masyarakat matriarkal yakni sangat menghormati perempuan dalam kehidupan keluarga. Perempuan memiliki hak-hak sosial dan politik yang sama dengan laki-laki dan sering memegang posisi tinggi di dunia politik dan bisnis. Penduduk Filipina mayoritas beragama Katolik 80%, dilanjutkan dengan Protestan 1.8%, hal ini karena Filipina dijajah Amerika Serikat, dilanjutkan dengan Islam 11% yang mayoritas berada di Pulau Mindanao, lalu Buddha 2.5% yang merupakan penduduk pendatang dari Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Malaysia, Singapura, Jepang, India, dan Vietnam. Sebanyak 0.4% menyatakan dirinya Atheis, dan 2.1% beragama lain.

China

Cina merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki wilayah terluas dan jumlah penduduk terbesar di dunia. Luas wilayah Cina mencapai 9.596.961 km2. Cina terletak di Benua Asia dengan letak georgrafis antara 18' LU–54'BT dan 73'BT–135'BT. Saat ini Cina merupakan salah satu negara berkembang yang kini mulai menjadi salah satu negara industri baru. Kemajuan ekonomi Cina mulai terlihat sejak negara yang semula tertutup tersebut membuka perekonomiannya dengan negara lain. Negara Tirai Bambu ini menghasilkan mesin bubut, alat-alat pertambangan, suku cadang kendaraan bermotor, mesin, semen, dan pupuk. Cina juga mengembangkan industri perakitan elektronik, seperti komputer dan telepon genggam. Cina merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia. Pada tahun 2006 jumlah penduduk Cina mencapai 1.313.973.713 jiwa. Penduduk Cina umumnya adalah ras Mongoloid dengan kulit kuning dan mata sipit. Mayoritas etnis Han menyusun hampir 93% populasi. Penduduk bangsa Han sendiri heterogen dan bisa dianggap sebagai kumpulan berbagai etnik yang menerapkan budaya dan bahasa yang sama. Bahasa yang digunakan secara luas di Cina yaitu bahasa Mandarin. Begitupun halnya di Cina, agama merupakan sesuatu yang sakral, karena agama menurut masyarakat Cina dielementasikan sebagai penghormatan kepada Dewa dan roh nenek moyang, hal ini terdapat dalam agama Kong Hu chu. Kong Hu Chu merupakan agama yang secara turun temurun tetap dipelihara oleh masyarakat Cina sampai sekarang bahkan ketika Cina sudah berubah menjadi negara RRC yang berideologikan komunis. Dalam perkembangannya agama asing juga merambah masyarakat Cina, pada Abad ke 13-14 ketika wilayah Cina dikuasai oleh bangsa Mongol, datang aliran agama katolik yaitu Nestorianisme yang dibawa oleh para pedagang Eropa ke wilayah Cina untuk disebarluaskan. Kondisi kehidupan agama berubah secara drastis ketika Cina sudah dikuasai sepenuhnya oleh Komunis, sejak tahun 1949, agama juga dijadikan subjek untuk mempropagandakan partai, oleh karena itu agama terutama kristen mulai dikekang dan gereja-gereja di Cina tidak boleh berhubungan dengan gereja-gereja di luar RRC. Hal tersebut bertujuan untuk membebaskan gereja Cina dari “imperialisme kebudayaan” dan pengaruh asing.

Brunei Darussalam

Brunei adalah negara kecil di ujung utara pulau Kalimantan yang kaya raya. Pada tahun 2013, Brunei menempati posisi keenam sebagai negara dengan pendapatan perkapita terbesar di dunia setelah Qatar, Luxemburg, Singapura, Norwegia dan Hongkong. Pendapatan per kapita rata-rata penduduk Brunei adalah USD 50.526,35 atau sekitar Rp 576,5 juta pertahun. Kalau dibagi dua belas, maka pendapatan rata-rata masyarakat Brunei sekitar Rp 48 juta per bulan. Penduduk Brunei tak lebih dari 500.000 orang. Itupun sudah ditambah dengan para pendatang dari Indonesia, Philipina, Bangladesh, India, dan negara-negara lainnya. Para pendatang dari luar Brunei yang tinggal di Brunei tak kurang dari 100.000 orang. Penduduk pribumi Brunei terdiri dari bangsa Melayu, Tionghoa, dan India. Orang-orang Melayu adalah penduduk asli Brunei. Merekalah yang memegang kendali pemerintahan. Mereka bekerja di sektor-sektor penting pemerintahan. Sementara bangsa Tionghoa dan India lebih banyak bergelut di dunia bisnis dan ekonomi. Negara Brunei menganut sistem monarki absolut di mana kekuasan negara dipegang secara penuh oleh sultan. Sultan menjabat sebagai raja, kepala pemerintahan, perdana menteri, menteri pertahanan dan menteri keuangan sekaligus. Sementara kementerian-kementrian sisanya diberikan kepada masyrakat, di mana sebagaian besarnya masih diisi oleh keluarga Sultan sendiri. Saat ini sultan yang memimpin Brunei adalah Haji Hassanal Bolkiyah. Dia bergelar mu’izzuddin wad daulah (pen. Bapaknya adalah Haji Omar Ali Saifuddin yang bergelar Sa’dul Khairi wad Din. Kehidupan di Brunei sangat tenang (bahkan sedikit sepi) rapi dan teratur. Jalan-jalan sangat lebar dan tertata rapi. Setiap jalan dibuat satu jalur-satu jalur dengan rambu-rambu lalu lintas yang lengkap. Papan rambu-rambu dibuat besar-besar di samping kanan kiri jalan sebagai penunjuk jalan. Masyarakatnya pun taat hukum. Islam ialah agama resmi Brunei (67%), dan Sultan Brunei merupakan kepala agama negara itu. Agama-agama lain yang dianut termasuk agama Buddha (terutamanya oleh orang Tiong Hoa[13%]), agama Kristen (10%), serta agama-agama orang asli (dalam komunitas-komunitas yang amat kecil [10%]). Budaya Brunei seakan sama dengan budaya Melayu, dengan pengaruh kuat dari Hindu dan Islam, tetapi kelihatan lebih konservatif dibandingkan Malaysia. Penjualan dan penggunaan alkohol diharamkan, dengan orang luar dan non-Muslim dibenarkan membawa dalam 12 bir dan dua botol miras setiap kali mereka masuk negara ini.
 
Sumber : www.wikipedia.com

Terima Kasih :D

Kamis, 12 Januari 2017

Tugas ISD

Nama : Iresthia Balgistha
Npm : 13116575
Kelas : 1 KA 26


Ahok Targetkan Kemiskinan Jakarta Hanya Tinggal Satu Persen

Analisis:
Gubenur non aktif DKI Basuki T Purnama berpendapat untuk lima tahun kedepan bahwa angka kemiskinan di Jakarta akan menurun dari angka 3,4% menjadi 1 atau 2%. Basuki T Purnama berusaha untuk menurunkan angka kemiskinan di Jakarta dengan cara memberikan subsidi kepada orang miskin agar ekonomi mereka menigkat. Serta ingin menerapkan sistem bagi hasil bagi warga kurang mampu untuk warga kurang mampu yang ingin membuka usaha. sehingga warga tersebut mendapatkan penghasilan yang lebih. 

Sumber artikel:

https://news.detik.com/berita/d-3378434/ahok-targetkan-kemiskinan-jakarta-hanya-tinggal-satu-persen

Jumat, 18 November 2016



TUGAS ISD : PEMUDA DAN SOSIALISASI
NAMA : IRESTHIA BALGISTHA
NPM : 13116575
KELAS : 1 KA 26

PEMUDA DAN SOSIALISASI

1.    INTERNALISASI BELAJAR DAN SPESIALISASI
Masa remaja adalah masa transisi dan secara psikologis sangat problematis. Masa ini memungkinkan mereka berada dalam anomi (keadaan tanpa norma atau hokum RED) akibat kontradiksi norma maupun orientasi mendua. Dalam keadaan demikian, seringkali muncul perilaku penyimpangan atau cenderung melakukan pelanggaran. Kondisi ini juga memungkinkan mereka menjadi sasaran pengaruh media massa. Anomi, menurut Enoch Markum, muncul akibat keanekaragaman dan kekaburan norma. Misalnya norma A yang ditanamkan dalam keluarga, sangat bertentangan dengan norma B yang ia saksikan di luar lingkungan keluarga.
Sedangkan orientasi mendua, menurut Dr. Male, adalah orientasi yang bertumpu pada harapan orang tua, masyarakat dan bangsa yang sering bertentangan dengan keterikatan serta loyalitas terhadap peer(teman sebaya), apakah itu di lingkungan belajar (sekolah) atau luar sekolah. Demikian mereka adalah kelompok potensial yang mudah dipengaruhi mediamassa, apapun bentuknya. Keadaan bimbang akibat orientasi mendua, menurut Dr. malo juga menyebabkan remaja nekad melakukan tindakan bunuh diri. Mengutip hasil penelitian Dr. Prayitno mengenai percobaan bunuh diri di Jakarta dalam hubungannya dengan diagnosis psikiatris dan factor social kultural terhadap 1337 kasus percobaan bunuh diri diketahui 5,6 persen remaja mencoba bunuh diri dalam kurun waktu tersebut, bila di jumlah dengan kategori 16-20 tahun jumlahnya menjadi 40 persen. Hal ini antara lain akibat pertentangan nilai antara pergroup dengan pola asuh dan metode pendidikan, tambah Dr. malo. Untuk mengatasi hal ini Dr. Malo mengemukakan beberapa alternatif jalan keluar yang diambil harus memperhitungkan peranan peer group. Sementara Enoch Markum berpendapat, agar orang dewasa tidak selalu menganggap setiap youth culture adalah counter culture. Remaja harus diberi kesempatan berkembang dan berargumentasi. “Tidak semua yang termasuk dalam youth culture jelek”, tambahnya. Enoch Markum juga melihat perbedaan yang berarti, antara remaja dulu dan sekarang, disebabkan munculnya fungsi-fungsi baru dalam masyarakat yang dulu tidak ada. Ia hanya menawarkan 2 alternatif pemecah masalah. Pertama mengaktifkan kembali fungsi keluarga, dan kembali pada pendidikan agama karena hanya agama yang bias memberikan pegangan yang mantap. Kedua menegakkan hukum akan berpengaruh besar bagi remaja dalam proses pengukuhan identitas dirinya.
Dengan demikian, kesan semakin permisifnya masyarakat juga tercermin pada isi media yang beredar. Sementara masa remaja yang merupakan periode peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa, ditandai beberapa ciri yaitu, pertama keinginan memenuhi dan menyatakan identitas diri, kedua kemampuan melepas diri dari ketergantungan orangtua, ketiga kebutuhan memperoleh akseptabilitas ditengah sesama remaja. Ciri-ciri ini menyebabkan kecenderungan remaja melahap begitu saja arus informasi serasi dengan selera dan keinginan mereka. Perlunya membekali remaja dengan keterampilan berinformasi yang mencakup kemampuan menemukan, memilih, menggunakan dan mengevaluasi informasi. Pemecah lainnya adalah bimbingan orangtua dalam mengkonsumsi media massa.
Sementara itu Suwarniayati Sartomo berpendapat, remaja sebagai individu dan masa pancaroba mempunyai penilaian yang belum mendalam terhadap norma, etika dan agama seperti halnya orang dewasa. Mereka menganggap tanggung jawab mengenai masalah kenakalan remaja sepenuhnya berada di pihak yang berwajib. Dinamika pemuda tidak lebih dari usaha untuk menyesuaikan diri dengan pola-pola kelakuan yang sudah tersedia, dan setiap bentuk kelakuab yang menyimpang akan dicap sebagai yang anomalis, yang tak sewajarnya. Pemuda dianggap sebagai obyek dari penerapan pola-pola kehidupan dan bukan sebagai subyek yang mempunyai nilai sendiri.
2.    PEMUDA DAN IDENTITAS
Pemuda adalah suatu generasi yang dipundaknya terbebani macam harapan terutama dari generasi lainnya. Lebih menarik lagi pada generasi ini mempunyai permasalahan permasalahan yang sangat bervariasi, di mana jika permasalahan ini tidak dapat diatasi seccara proposional maka pemuda akan kehilangan fungsingnya sebagai penerus pembangun. Proses sosialisasi generasi muda adalah suatu proses yang sangat menentukan kemampuan diri pemuda untuk menselaraskan diri ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Oleh karena itu pada tahapan pengembangan dan pembinaan melalui proses kematangan dirinya dan belajar pada berbagai media sosialisasi yang ada di masyarakat.
Pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda disusun berlandaskan :
1.Landasan idiil               : Pancasila
2.Landasan konstitusional          : Undang-Undang Dasar 1945
3.Landasan strategis                   : Garis-garis Besar Haluan Negara
4.Landasan historis                    : Sumpah Pemuda Tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
5.Landasan normative                : Etika, tata nilai dan tradisi luhur yang hidup dalam masyarakat.
Atas dasar kenyataan diatas diperlukan penataan kehidupan pemuda karena pemuda perlu memainkan peranan yang penting dalam pelaksanaan pembangunan. Hal tersebut mengingat masa depan adalah kepunyaan generasi muda, namun disadari pula bahwa masa depan tidak berdiri sendiri.ia adalah lanjutan dari masa sekarang dan masa sekarang adalah hasil masa lampau. Apabila pemuda pada masa sekarang terpisah dari persoalan-persoalan masyarakat, maka sulit akan lahir pemimpin masa datang yang dapat memimpin bangsanya sendiri. Sosialisai adalah proses yang membantu individu melalui belajar dan penyesuaian diri, bagaimana bertindak dan berpikir agar ia dapat berperan dan berfungsi, baik sebagai anggota masyarakat. Proses sosialisai sebenarnya berawal dari dalam keluarga. Bagi anak-anak yang maasih kecil situasi sekeliling adalah keluarga sendiri. Gambaran diri mereka merupakan pantulan perhatian yang diberikan keluarga kepada mereka. Nilai-nilai yang dimiliki oleh individu dan berbagai perab diharapkan dilakukan oleh seseorang semuanya berawal dari dalam lingkungan keluarga sendiri. Melalui proses sosialisasi, individu (pemuda) akan terwarnai cara berpikir dan kebiasaan kebiasaan hidupnya dengan proses sosialisasi, individu menjadi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku ditengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Proses tersebut seorang individu dari masa anak-anak hingga dewasa belajar pola-pola tindakan dalam interaksi beraneka ragam atau macam peranan social yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Sosialisasi dititik bratkan soal individu dalam kelompok melalui pendidikan dan perkembangannya. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian (self) dan keperibadian sesorang terhadap diri sendiri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya.
Proses sosialisasi ini berarti tidak berhenti sampai pada keluarga, tapi masih ada lembaga lainnya. Cohen (1983) menyatakan bahwa lembaga-lembaga sosialisasi yang terpenting ialah keluarga, sekolah, kelompok sebaya dan media masa. Dengan demikian sosialisasi dapat berlangsung secara formal ataupun informal. Secara formal, proses sosialisasi lebih teratur karena di dalamnya disajikan seperangkat ilmu pengetahuan secara teratur dan sistematis serta dilengkapi oleh perangkat norma yang tegas dan harus dipatuhi oleh individu. Sedangkan informal, proses sosialisasi ini bersifat tidak sengaja, terjadinya ini bila seseorang individu mempelajari pola-pola keterampilan, norma atau perilaku melalui pengamatan informal tehadap interaksi orang lain. Tujuan pokok sosialisasi adalah individu harus dibeli ilmu pengetahuan (keterampilan) yang dibutuhkan bagi kehidupan kelak di masyarakat. Individu harys mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuannya. Factor lingkungan bagi pemuda dalam proses sosialisasi memegang perana penting, karena dalam proses sosialisasi pemuda terus berlanjut dengan segala daya imitasi dan identitasnya. Pengalaman demi pengalaman akan diperoleh pemuda dari lingkungan sekelilinya.
3.       PERGURUAN DAN PENDIDIKAN
Jika pada abad ke 20 ini planet bumi dihuni oleh mayoritas penduduk berusia muda, dengan perkiraan berusia 17 tahunan, tentu akan menimbulkan beberapa pertanyaan. Pada kenyataannya Negara-negara sedang berkembang masih banyak mendapat kesulitan untuk penyelenggaraan pengembangan tenaga usia muda melalui pendidikan. Di Negara-negara maju, salah satu diantaranya adalah amerika Serikat pada umumnya generasi muda mendapat kesempatan luas dalam mengembangkan kemampuan dan potensi idenya. Para mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda, didorong, dirangsang, dengan berbagai motivasi dan dipacu untuk maju dalam berlomba menciptakan suatu ide/gagasan yang harus diwujudkan dalam suatu bentuk barang, dengan berorientasi pada teknologi mereka sendiri.
Gagasan dan pola kerja yang hampir serupa telah dikembangkan pula di Negara-negara Asia, misalnya : Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan. Teknologi industri itu membawa negara-negara itu tampil dengan lebih menyakinkan sebagai Negara yang berkembang mantap dalam perekonomiannya. Kaum muda memang betul-betul merupakan sumber bagi pengembangan masyarakat dan bangsa oleh karena itu pembinaan dan perhatian khusus harus diberikan bagi kebutuhan dan pengembangan potensi mereka.
Namun demikian tidak dapat disangkal bahwa kualitas sember daya manusia merupakan fakktor yang sangat menentukan dalam proses pembangunan. Hal ini karena manusia bukan semata mata menjadi obyek pembangunan. Disinilah terletak arti penting dari pendidikan sebagai upaya untuk terciptanya kualitas sumber daya manusia, sebagai prasarat utama dalam pembangunan. Indonesia demikian pula menghadapi kenyataan untuk melakukan usaha keras “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tetapi masalah pendidikan bukan saja masalah pendidikan formal, tetapi pendidikan membentuk manusia-manusia membangun. Dan untuk itu diperlukan kebijaksanaan terarah dan terpadu didalam menangani masalah pendidikan ini. Sebagai satu bangsa yang menetapkan pancasila sebagai falsafah hidup bangsa dan Negara Indonesia, maka pendidikan nasional yang dibutuhkan adalah pendidikan dengan dasar dan dengan tujuan pancasila. Dalam implementasinya, satu pendidikan yang akan membina ketahanan hidup bangsa, baik secara fisik maupun secara ideologis dan mental. Untuk itu maka diperlukan adanya perubahan perubahan secara mendasar dan mendalam yang menyangkut persepsi, konsepsi serta norma-norma kependidikan dalam kaitannya dengan cita-cita bermasyarakat pancasila. Bila dibandingkan dengan sector-sektor pembangunan lainnya, sector pendidikan termasuk sector yang cukup pesat kemajuannya, kalau tidak dalam aspek kualitatif, setidaknya dalam aspek kuantitatif, sector tersebut telah mencapai hasil yang dapat dibanggakan.
Walaupun pada saat ini system pendidikan mulai dikelola secara lebih terbuka dan memungkinkan diterapkannya inovasi teknologi serta perkembangan-perkembangan ilmu mutakhir. Dalam arti inilah, maka pembicara tentang generasi muda/pemuda, khususnya berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi menjadi penting karena berbagai alasan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama di bangku sekolah. Ketiga, mahasiswa yang berasal dari berbagai etnis dan suku bangsa dapat menyatu dalam bentuk terjadinya akulturasi social dan budaya. Keempat, mahasiswa sebagai kelompok yang akan memasuki lapisan atas dari susunan kekuasaan, struktur perekonomian dan prestise di dalam masyarakat, dengan sendirinya merupakan elite di kalangan generasi muda/pemuda umumnya mempunyai latar belakang social, ekonomi, dan pendidikan lebih baik dari keseluruhan generasi muda lainnya.
Contoh kasus dalam hal pemudan dan sosialisasi:
1.    Penggunaan obat-obatan terlarang oleh pelajar
2.    Tawuran antar pelajar/mahasiswa

Sabtu, 15 Oktober 2016

CERITA PENGALAMAN PRIBADI


Nama saya Iresthia Balgistha, saat ini saya berusia 19tahun. Saya ingin sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi saya sejak saya kecil dan sampai sekarang.

Saya anak ke-2 dari 2 bersaudara, saya hanya mempunyai kakak laki-laki dan alhamdulillah ke-2 orang tua saya masih sehat sampai usia saya sekarang. Pengalaman yang masih saya ingat sampai saat ini, waktu saya masih umur 3tahun dibuatkan pesta ulang tahun sederhana oleh orang  tua saya. Pada saat itu saya belum bersekolah, saya mulai sekolah TK pas sekali umur saya 4tahun, saya tk 2thn. Banyak cerita lucu saat sekolah tk kalo menurut saya, saya yang masih cengeng hahahah.

Setelah selesai sekolah tk, saya melanjutkan ke tingkat sekolah dasar(SD). Sekolah saya waktu itu lumayan jauh dari rumah, setiap hari saya selalu diantar jemput. Kalo diingat-ingat tentang masa SD, jadi kangen teman-teman SD yang sekarang susah ketemu. Hanya beberapa yang masihsuka ketemu. Jaman-jaman sekolah dulu itu, namanya kelas 1 sampai 6 pasti kelas berubah terus, temennya selalu ganti-ganti hehehe. Setiap baru dateng  selalu berebutan duduk didepan hahaha, entah kenapa kebiasaan itu terjadi. Kalo tidak ngerjain pr pasti dihukum. Setiap istirahat selalu banyak permainan yang di mainkan, mainannya masih tradisional banget sih buat anak tahun 97, yang main lompat karet, benteng dll sih. Beda banget sama anak-anak kecil jaman sekarang yang udah pada main gadget semuanya hahhaha. Setelah udah naik ke kelas 6 mulai deh tuh selalu sibuk dengan kegiatan disekolah. Un selesai biasa deh acara perpisahan, waktu itu sih saya ikut isi acara dengan menari dengan teman-teman, waktu itu yang saya ingat saya menari tarian tradisional bali lengkap dengan pakaiannya. Setelah pengumuman kelulusan diberikan beserta nilainya disitulah mulai mendaftar ke sekolah menengah pertama(SMP).

Saat itu saya melanjutkan ke sekolah smp yang letaknya engga terlalu jauh dari rumah. Waktu itu sih nilai saya lumayan cukup buat masuk disekolah favorit yang terkenal di dekat sana. Tapi kenapa saya tidak memilih, karna terlalu jauh dari rumah. Pada waktu masuk pertama sekolah, biasa deh mulai ada ospek gitu 3hari, macem macem yang dibawa hahahah. Kelas 1 kelas 2 masuk siang terus mulai kelas 3 baru deh dapet pagi gatau kenapa. Kalo sekolah sih pagi biasanya dianter kalo pulang jalan kaki deket banget sih lumayan hahahah. Waktu udah kelas 3 selalu ikut kegiatan buat menjenlang ujian. Waktu kelas 1&2 sih ikut kegiatan ekstrakulikuler PMR sih, yaa dulu cita citanya pingin jadi dokter banget hhehe. Tapi semenjak udah kelas 3 udah bener-bener banyak kegiatannya, tapi menjurus ke persiapan UN. Mulai les terus, disekolah diluar sekolah pergi pagi pulang sore terus hahahah. Setelah un selesai, seperti biasa deh perpisahan dan jalan jalan kebandung.

Setelah pengumuman kelulusan SMP diberitahukan, mulai deh sibuk cari sekolah SMA hahahha. Kali ini sekolah SMA ga ada yang deket dari rumah. Waktu itu sih masih naik angkot, lama kelaman baru deh bawa motor. Nah di SMA ini nih yang beda banget, dari lingkungan, teman-temannya juga. Buat saya SMA memang paling menarik, saya sekolah ditempat yang mayoritasny anak-anak athlet berbagai cabang olahraga. SMA itu bener-bener tahap dewasa buat saya sendiri, lain dari masa SMP. Waktu SMA karna sekolah mayoritas siswanya athlet, jadi sering banyak banget pertandingan, dan mulai deh banyak supporter untuk meramaikkan dan mendukung. Saya pun ikut serta kemana pun mereka bertanding hahahaha. Seru sekali kalo setiap ada pertandingan, bersorak, bernyanyi dll. Rasanya lepas banget dari pelajarandan tugas selama disekolah hahahhah. Saat saat itu paling disenangin semua anak anak karna keluar dari kelas dengan ijin kepala sekolah hahaha.


Setelah masa SMA saya selesai, saya sempat 1tahun tidak kuliah atau menunda, karna faktor problem keluarga. Tapi saya bukan seperti anak-anak lain yang selesai SMA langsung kuliah. Saya selalu berprinsip sendiri sih, setelah selesai UN harus kerja, karna jeda libur lama banget, dan karna saya pikir pasti setelah lulus saya ga akan bisa langsung kuliah. Saya bekerja di Event Organaizer(EO). Awal mulanya sih yaa Cuma spg, tapi saya ga pernah malu buat ngelakuin pekerjaan itu, walaupun banyak teman-teman saya yang melihat saya bekerja. Mereka pun banyak yang ingin bekerja seperti saya, kata mereka “lumayan sih res buat jajan sendiri biar ga minta terus sama orang tua”. Mereka selalu bertanya tentang pekerjaan sama saya. Gatau kenapa saya seneng banget sama pekerjaan saya, berasa nyaman. Saat mulai kerja ini lah banyak banget dapet temen baru yang lebih dewasa diatas saya. Dan di dunia pekerjaan ini lah saya mulai tau rasanya orang tua saya bekerja seperti apa capeknya, dan seperti apa menikmati hasilnya. Selalu bersyukur sih intinya dari berapanpun yang saya dapat dari hasil kerja. Memang beda rasanya kalo jajan pakai uang sendiri heheheh, selain itu senengnya juga udah bisa bagi ke orangtua ya walaupun ga banyak sih. Bisa beli apa yang dipingin, tanpa harus minta dari orang tua terus. Setelah setahun lama saya bekerja, orang tua menyuruh untuk berkuliah, karna pendidikan saya harus dilanjutkan supaya bisa lebih mendapatkan pekerjaan yg lebih asik hehe. Segitu aja sih cerita pengalaman saya ga banyak hehehe.